Kamis, 08 November 2012

PENGARUH BUDAYA LOKAL TERHADAP KELESTARIAN LINGKUNGAN


PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP
PENGARUH BUDAYA LOKAL TERHADAP KELESTARIAN LINGKUNGAN

Kelompok 4 :
1.      Denara Nurul TK (1110015000004)
2.      Oni Restiawati (1110015000023)
3.      Ruqoyah F.A (1110015000026)
4.      Ayu Nissa P.N (1110015000034)
5.      Frisca Fauzia (1110015000038)

JURUSAN PENDIDIKAN IPS III C
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam kami sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan izin Allah telah membawa kita dari zaman kebodohan ke zaman  yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu bahan penunjang materi pembelajaran “Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup”. Melalui makalah ini kami mencoba memberikan penjelasan mengenai “Pengaruh Budaya Lokal Terhadap Kelestarian Lingkungan”. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Dr. Faridal Arkam M.Pd  sebagai Dosen Mata Kuliah Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH).
Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca semua. Dengan kata lain dapat memahami tentang bagaimana pengaruh budaya lokal terhadap kelestarian lingkungan yang kami lakukan observasi pada lingkungan kami. Sebagai manusia biasa, kami tidak luput dari kesalahan. Kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini.




Ciputat, 29 Desember 2011

Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara dengan memiliki banyak pulau dengan kekayaan sumber daya alam yang beraneka ragam. Karena Indonesia merupakan Negara kepulauan sudah tentu sangat beragam pula masalah yang akan ditimbulkan oleh negeri ini. Masalah lingkungan yang sering menjadi pokok permasalahan bangsa ini, permasalahan ini tidak pernah ada habisnya. Saat masalah yang lain belum selesai, timbul permasalahan baru. Permasalahan ini biasa terjadi karena pendekatan penggunaan teknologi dalam rangka eksploitasi sumber daya alam sebagai bahan baku produksi yang kurang memperhatikan lingkungan.
Dengan dibuatnya makalah ini, kami mengadakan observasi kecil terhadap lingkungan yang kami tempati sebagai sampel dari makalah Pendidikan Kependudukan Lingkungan Hidup. Wilayah observasi hanya mencakup sebagian kecil Indonesia yaitu dari tingkat RT (Rukun Tetangga). Observasi bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan lingkungan disekitar kami dan  mengamati juga bagaimana penduduk setempat berperan aktif dalam melestarikan lingkungannya. Program-program kerja yang dicanangkan biasanya banyak yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

B.     Rumusan Masalah
1.      Dimanakah letak wilayah yang dijadikan observasi?
2.      Bagaimanakah Struktur keprmerintahan dalam Tingkat RT tersebut?
3.      Adakah warga yang dijadikan Tokoh Masyarakat karena peran pentingnya dalam daerah tersebut?
4.      Bagaimanakan keadaan lingkunngan hidup daerah tersebut?
5.      Apa sajakah kegiatan yang sering dilakukan masyarakat setempat dalam melestarikan lingkungan hidup?
6.      Bagaimanakah keadaan sosial ekonomi masyarakat daerah setempat?
7.      Bagaimanakah kepedulian masyarakat terhadap  lingkungan disekitarnya?
8.      Bagaimanakah tanggapan pemakalah tentang pengaruh budaya lokal terhadap kelestarian lingkungan?

C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui letak wilayah yang dijadikan observasi.
2.      Untuk mengetahui Struktur keprmerintahan dalam Tingkat RT tersebut.
3.      Untuk mengetahui warga yang dijadikan Tokoh Masyarakat karena peran pentingnya dalam daerah tersebut.
4.      Untuk mengetahui keadaan lingkungan hidup daerah tersebut.
5.      Untuk mengetahui kegiatan yang sering dilakukan masyarakat setempat dalam melestarikan lingkungan hidup.
6.      Untuk mengetahui keadaan sosial ekonomi masyarakat daerah setempat.
7.      Untuk mengetahui kepedulian masyarakat terhadap  lingkungan disekitarnya.
8.      Untuk mengetahui tanggapan pemakalah tentang pengaruh budaya lokal terhadap kelestarian lingkungan.










BAB II
PEMBAHASAN

Hasil Observasi Denara Nurul Titiankasih & Ayu Nissa Puspa Negara
Description: Foto0991.jpg

Hunian yang asri, teduh, aman dan nyaman adalah impian semua keluarga, karna istilah “Rumahku Surga ku” itu bisa dikatakan kebenaran, dimana sebuah rumah atau tempat tinggal sangatlah penting untuk manusia pada umumnya. Tak kalah pentingnya juga sebuah Lingkungan atau daerah yang ada di sekelilinhnya, karna dari lingkungan itulah pembentukan perkembangan sebuah karakter akan terbentuk, baik atau tidak nya bisa di lihat dari lingkungan itu sendiri.
Di sini saya melakukan observasi, sebuah hunian yang asri dan nyaman bernama “Perumahan Villa Pertiwi” yang mana letak  strategisnya berada di Jln. Raya Bogor Kecamatan.Cilodong  Kelurahan.Sukamaju Kota Depok Rt05/Rw013. Untuk memudahkan komunikasi dan sosialisasi antar warga di bentuk kepengurusan RT dan RW, pada tingkatan Rw 013 di kepalai oleh Bapak H. Sugiono sedangkan dalam wilayah Rt 05 di kepalai oleh Bapak Triwaluyo untuk Bendahara RT sendiri di pegang oleh Bapak Zaenal dan Sekretaris RT di pegang oleh Bapak Sugianto. Selain para pengurus tersebut terdapat juga istilah tokoh masyarakat, di sini yang di lihat sebagai contoh yang baik untuk masyarakat ialah Bapak H.Ombang yang biasa di anggap Ustadz setempat, begitu juga dengan Bapak Topik dan Bapak Zainal yang di kenal sebagai petua atau penasehat di sini. Pada umumnya latar belakang ekonomi di perumahan ini tergolong sejahtera, rata-rata pekerjaan nya ialah Pegawai Negri Sipil, Pegawai dan Karyawan (PAM dan PLN).
Untuk kegiatannya sendiri di perumahan ini bisa di bilang sangat aktif dan kreatif, kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaa’at selalu rutin di adakan baik yang bernilai religi, sosial, kesehatan, maupun kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Kegiatan sosial dan religi:
v  Kerja bakti setiap minggu nya.
v  Setiap minngu nya di adakan olahraga bersama di balewarga dan juga senam sehat khusus ibu-ibu setiap hari selasa dan kamis sore.
v  Mengadakan arisan bapak-bapak dan ibu-ibu.
v  Setiap hari perayaan di adakan acara, seperti perayaan 17 Agustus, perayaan Hari Ibu, perayaan Isra’ mi’raj dll.
v  Para remaja Karang Taruna juga aktif dan Kreatif.
v  Mengadakan Majlis Ta’lim tiap minggu nya, anak-anak, remaja, dan orang tua.
v  Koprasi masyarakat.
Kegiatan kesehatan dan kepedulian terhadap Lingkungan Hidup:
v  Mengadakan peninjauan Lingkungan apotik hidup.
v  Mewajibkan penanamantumbuh-tumbuhan pada tiap-tiap rumah.
v  Posyandu.
v  Pembagian obat anti Kaki Gajah setiap bulannya.

Kepedulian masyarakat setempat dengan lingkungan sekitarnya sudah hampir 95% di lihat dari kekompakan tiap-tiap individu nya, sehingga bisa menciptakan Lingkungan mereka menjadi aman, nyaman, tentram dan teduh ( dari segi lingkungannya). Karna kekompakan nya itulah tercipta suasana lingkungan yang sehat dan bersih. Terbukti dengan adanya kegiatan-kegiatan yang mengandung unsur kesehatan dan kebersihan tersebut.


Hasil Observasi Oni Restiawati & Frisca Fauzia Khairunnissa
1.      Letak Wilayah Observasi
Jalan Lembang 2 Lama RT.003/03
Kelurahan Sudimara Barat
Kecamatan Ciledug
Kota Tangerang
Provinsi banten

2.      Sruktur Kepemerintahan Tingkat RT
Ketua RW : Kusnadi
Ketua RT : Cecep Supriadi

3.      Tokoh Masyarakat
a.       Drs. Ngadiyat
b.      Sodri Kurniawan S.Ag
c.       Drs. H. Misik Natari
d.      H. Alwanih
e.       H. Asmawi

4.      Keadaan Lingkungan RT Setempat
Lingkungan dalam kawasan RT 003 ini tidak jauh berbeda dengan pola pemukiman yang biasanya terdapat diperkotaan. Kira – kira di huni 200 kepala keluarga. Rumah – rumah dengan luas yang tidak sama besarnya dan  sebagian tata ruangnya sudah baik. Sedangkan sebagian lagi masih perlu diperbaiki. Banyak rumah yang tidak memiliki pekarangan ataupun halaman yang digunakan sebagai lahan hijau. Masih terdapat beberapa lahan yang luas yang dimanfaatkan untuk kebun buah-buahan. Rapatnya pemukiman didaerah ini membuat jalanan ber-conblock semakin sempit. Sehingga akses agak sulit untuk rumah yang dalam gang-gang kecil  dan yang merupakan  jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh motor, gerobak dan tentunya manusia. Hanya ada 1 jalan besar di Jalan Lembang 2 yang merupakan gerbang untuk keluar masuk ke Lembang 2 baru, 3, 4, 5, dan 6. Sehingga jalan ini selalu ramai dilalui mobil, motor, dll.

Wilayah ini agak cukup tinggi yang terlihat dari batas sungai yang ada. Wilayah pemukiman ini berada di atas sungai di bawah dan sungai sama rata dengan RT lain. Sungai yang ada di wilayah ini adalah anak sungai yang akan berujung di Sungai Cisadane. Keadaan umumnya sudah tercemar dengan limbah pabrik, limbah pasar dan juga limbah rumah tangga. Limbah pabrik yang membuang ke aliran sungai ini adalah pabrik tahu dan tempe. Walaupun pabrik tersebut tidak berada di wilayah RT 003, tetapi limbah yang terbawa sungai berdampak pula terhadap wilayah ini. Pada aliran sungai ini banyak limbah pasar yang berupa sampah- sampah yang dibuang oleh pedagang yang nakal, walaupun tidak semua  pedagang seperti itu. Banyak warga yang membuang air sisa MCK langsung teraliri ke sungai yang menjadikan sungai berwarna keruh kecoklatan. Ada beberapa koveksi baju, tetapi limbahnya tidak dibuang ke sungai. Selain itu ada beberapa warga yang menjadi peternak ayam, bebek dan juga kambing. Kawasan peternakan tersebut memang agak bau dan kotor.

Terkadang saat musim kemarau sungai ini berwarna kehitaman dengan bau yang menyengat dan sangat menganggu masyarakat sekitar. Terjadi pendangkalan terhadap sungai ini karena terlihat begitu banyaknya lumpur. Sesekali ada warga yang mengangkuti lumpur dari dasar sungai. Tidak ada warga yang memanfaatkan air sungai ini untuk MCK, karna sebagian besar telah memiliki sumur masing – masing dalam rumah. Di sebagian jalan sedang ada perbaikan pada pinggir jalan untuk membuat gorong-gorong untuk saluran air hujan.


5.      Kegiatan yang Rutin dilakukan
Banyak agenda yang direncanakan tetapi tidak semua berjalan dengan baik dan lancar. Kegiatan yang terlihat baik dalam ruang lingkup menjaga kelestarian lingkungan adalah pembuangan sampah. Sebelumnya banyak warga yang buang sampah di pinggir sungai atau di lahan kosong yang bukan semestinya untuk membuang sampah. Tetapi sekarang setiap hari kecuali hari minggu ada seorang petugas yang mengambil sampah dari warga secara door to door. Sampah ini akan di kumpulkan dan akan diangkut oleh dinas kebersihan. Dan kegiatan ini terbukti efektif untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan ini dibebankan kepada warga untuk membayar sebesar Rp. 15.000,- /bulan.

Selain itu diadakan kerja bakti dalam jangka waktu sebulan sekali. Biasanya kerja bakti ini lebih sering di lakukan di masjid yang sedang dilalukan renovasi dan juga jalanan beserta selokan. Tetapi kerja bakti ini kurang barandil besar dalam pelaksanaan melestarikan lingkungan karena hanya dilakukan sesekali saja. Salah satu cara yang baik untuk memupuk tali silaturahmi, silodaritas dan jiwa gotong royong. Yang paling pentinga adalah adanya upaya untuk mencintai lingkungan walaupun hanya melakukan hal kecil tetapi dapat mengubah bumi kita yang sudah mamiliki berbagai macam permasalahan.

6.      Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat
Masyarakat wilayah ini beraneka ragam pekerjaannya mulai dari PNS, wiraswasta, buruh, kuli bangunan, pengemudi dan banyak juga yang menganggur.
Dari keadaan sosial ekonominya ini dapat juga terlihat bagaimana tempat tinggalnya. Misalnya seorang PNS yaitu Polisi dengan jabatan yang cukup tinggi, kediamannya bersih, sehat dan nyaman karena memilki pengetahuan yang baik tentang lingkungan. Sedangkan bagi pedagang yang menggunakan gerobak biasanya rumahnya sanitasinya kurang baik, kumuh dan jarang memperhatikan kebersihan. Padahal modal utama para pedagang adalah menjaga kebersihan makanannya. Tetapi tidak semua pedagang berlaku seperti itu. Banyak juga warga dengan pekerjaan seperti buruh atau kuli bangunan yang rumahnya juga tidak memikili sanitasi yang baik sehingga rumahnya terasa bau dan juga lembab. Tetapi keadaan sosial bukan menjadi jaminan mutlak bahwa rumah dan lingkungannya akan baik, semua itu kembali lagi terhadap setiap warga. Apakah ia peduli dengan kesehatan dirinya dan juga menjaga kelestarian lingkungan sekitarnya.

7.      Kepedulian Masyarakat terhadap Lingkungan
Masyarakat sekitar umumnya telah memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga alam sekitarnya. Dengan tidak lagi membuang sampah pada sungai dan menjaga kebersihan lingkungannya. Tatpi tidak semua kepedulian itu di realisasikan dengan kegiatan yang membantu kelestarian lingkungan. Hanya sadar saja tidak cukup tetapi harus di realisasikan, itu hal yang penting.

8.      Tanggapan Saya tentang Pengaruh Budaya Lokal Terhadap Kelestarian Lingkungan
Menurut saya, lingkungan yang saya tempati sudah cukup baik. Walaupun ada peternakan tetapi tidak terlalu dekat dengan rumah saya. Sungai saat sedang musim kemarau tercium bau yang menyengat karena adanya limbah pada sungai tersebut. Hal itu menjadi salah satu kelemahan lingkungan disini. Kegiatan pengambilan sampah juga sudah berjalan dengan baik sehingga jarang ada warga RT 003 yang menbuang sampah ke sungai. Masyarakat harusnya lebih peduli terhadap lingkungannya diman ia tinggal. Saya selaku mahasiswa harus bisa menjadi agent of change dimulai dari ruang lingkup keluarga hingga RT misalnya. Karena orang yang memiliki pendidikan yang baik dan tinggi, ia akan lebih peduli terhadap lingkungannya dan juga peka terhadap perubahan alam yang terjadi.


Hasil Observasi Ruqoyah Fitria Annisaa
Budaya lokal dalam menjaga lingkungan di Jakarta hampir sama, seperti dengan adanya kerja bakti dan penghijauan bahkan sampai penanaman pohon obat-obatan, tidak jarang setiap rumah mempunyai pohon-pohon besar di depan atau di belakang rumahnya, namun karena semakin banyak penduduk dan para pendatang yang tinggal di Jakarta memberi dampak yang signifikan terhadap lahan penghijauan menjadi pemukiman yang lebih padat. Dan sekarang Jakarta menjadi tempat pemukiman yang paling diminati oleh warga Indonesia dan meningkat pula pemukiman di daerah sekitar Jakarta seperti depok dan bogor.
Keadaan yang terjadi membuat lahan penghijauan terganti dengan pemukiman warga, memang sekarang jarang ditemukan rumah-rumah yang menanam pohon obat-obatan, tetapi dalam masalah menjaga lingkungan seperti kerja bakti masih dilakukan setiap pekannya oleh warga dan diarahkan dengan pihak RT dan jajaran RW. Dan sekarang pun sudah ada kegiatan rutin dari kelurahan untuk setiap warga kerja bakti di lingkungan tempat tinggalnya.
Tepatnya daerah Bangka di Jakarta selatan selalu diadakan kerja bakti dan diadakan pula pemantauan jentik-jentik setiap pekannya, tidak hanya itu, sekarang di Jakarta sudah di wajibkan adanya daerah peresapan air disekitar perumahan mereka. Dalam kegiatan kelurahanpun ada penanaman pohon di sekitar jalan, tapi yang disayangkan penanamannya tidak dibarengi dengan pemeliharaan yang berlanjut.
Keadaan lingkungan disini baik dalam kebersihannya karena sampah-sampah sudah diangkut setiap malamnya dan adanya penyiraman tanaman setiap paginya, namun disini kurang memaksimalkan sampah-sampah yang bisa didaur ulang atau dimanfaatkan kembali dan belum adanya pemisahan antara sampah organik dan non organik.
Keadaan sosial di daerah Bangka ini heterogen karena hampir setiap tahunnya datang para pendatang yang mencari pekerjaan dan ada juga yang sudah diterima di Jakarta. Keadaan sosial di daerah ini lebih banyak yang menengah ke bawah karena kebanyakan pekerjaannya pedagang-pedagang kecil.





BAB III
KESIMPULAN

Menurut kelompok kami kepedulian lingkungan di ketiga daerah tersebut, dan cukup baik karena, di daerah tersebut juga dipengaruhi budaya lokal yaitu penanaman pohon-pohon dan pembuangan sampah yang teratur dengan adanya kerja bakti yang dilakukan oleh para warga setiap pekannya. Semoga kedepannya ada gerakan yang memberi perubahan terhadap lingkungan.
Ada baiknya kami bisa mencontoh hal-hal baik dari ketiga daerah tersebut, siapa lagi kalau bukan kita yang dapat memajukan dan menyehatkan lingkungan yang kami huni sekarang ini, agar kelak bisa membawa manfa’at untuk penerus kami nanti.

Geografi Ekonomi - Transportasi


Transportasi (Laut)
Nama   : Ayu Nissa P. N           Kelas   : 4C/Geografi
NIM     : 1110015000034             Email   : negaraayu@yahoo.com

Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka.
Transportasi laut berperan penting dalam dunia perdagangan internasional maupun domestik. Transportasi laut juga membuka akses dan menghubungkan wilayah pulau, baik daerah sudah yang maju maupun yang masih terisolasi.
VALLEGA (2001) dalam perspektif geografis mengingatkan bahwa tantangan globalisasi yang berkaitan dengan kelautan adalah transportasi laut, sistem komunikasi, urbanisasi di wilayah pesisir, dan pariwisata bahari. Karena itu diperlukan kebijakan kelautan (ocean policy) yang mengakomodasi transportasi laut di sebuah negeri bahari.

Pendahuluan
Perkembangan transportasi laut di Indonesia sampai saat ini masih dikuasai oleh pihak asing. Di bidang transportasi laut, Indonesia ternyata belum memiliki armada kapal yang memadai dari segi jumlah maupun kapasitasnya.
Ironis. Indonesia merupakan salah satu produsen ikan cakalang, tuna, dan tongkol terbesar di dunia. Akan tetapi, dalam 10 tahun terakhir industri pengalengan ikan di negara kepulauan ini harus mengimpor ikan cakalang, serta tuna dari Filipina.
“Kedengarannya aneh jika kita harus mengimpor lagi ikan cakalang dan tuna dari Filipina. Namun, itulah faktanya. Padahal, ikan yang diimpor ini mungkin saja merupakan hasil penangkapan nelayan dan kapal ikan Filipina secara ilegal di perairan Indonesia,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APPI) Hendri Sutandinata. Berdasarkan laporan Organisasi Pangan Dunia (FAO) tahun 2001 menyebutkan bahwa jumlah ikan yang ditangkap secara ilegal di kawasan perairan Indonesia mencapai kurang lebih 1,5 juta ton per tahun. Dengan nilai kerugian berkisar 1,0 milyar dollar AS sampai 4,0 milyar dollar AS.

Hubungan Kerja
Mulai membaiknya kondisi perekonomian Indonesia pasca krisis ekonomi 1997, maka volume perdagangan luar negeri juga semakin meningkat. Seiring dengan era perdagangan bebas (AFTA, NAFTA, APEC, dll). Kebutuhan atas saluran distribusi yang efektif dan efisien tentunya tidak terlepas dari kinerja sistem transportasi nasional, terutama sektor kepelabuhanan yang menjadi moda utama pergerakan barang melalui laut. Penataan sektor kepelabuhanan menjadi perhatian utama karena selama ini dinilai bahwa 30% biaya transportasi dihabiskan di pelabuhan karena kualitas pelayanan kepelabuhanan yang rendah (Bisnis Indonesia, 2003). Perkembangan alat angkut barang melalui laut yang lebih mutakhir ternyata masih belum diimbangi dengan pelayanan kepelabuhanan yang produktif dan efisien sehingga menurunkan daya saing produk – produk ekspor Indonesia.

Metodologi
Melalui Analisis SWOT
Kemungkinan kemajuan transportasi laut internasional di Indonesia dapat dianalisis sebagai berikut :
1.      Strenght/kekuatan (faktor internal) :
a. Kondisi geografis Indonesia cukup strategis ;
b. Perbaikan perekonomian nasional ;
c. Otonomi daerah membawa semangat perbaikan kinerja.
2.      Weakness/kelemahan (faktor internal) :
a. Investasi besar ;
b. Sumber Daya Manusia rendah ;
c. Sarana belum memadai ;
d. Prasarana kurang memadai ;
e. Kebijakan Pemerintah/ Penegakan hukum kurang memadai ;
f. Monopoli Perusahaan.
3.      Opportunity/Peluang (faktor eksternal) :
a. Pangsa pasar besar ;
b. Kondisi perdagangan dunia meningkat ;
c. Deregulasi dan debirokratisasi.
4.      Threat/ancaman (faktor eksternal) :
a. Persaingan dengan perusahaan asing ;
b. Citra negatif perusahaan Indonesia dimata internasional.

            Ironi Pelabuhan
Sudah lama kondisi pelabuhan di Indonesia mempriihatinkan. Sudah lama pula posisi strategis negri ini di jalur perdagangan dunia tidak mampu di manfaatkan. Padahal, siapa pun tahu, pelabuhan memiliki peran vital, baik di sector perekonomian maupun pertahanan. Itu tidak hanya menjadi medium mobilitas orang dan barang, tapi juga asarana penghubung antarpulau dan antarnegara. Celakanya, mayoritas pelabuhan di Indonesia ketinggalan jaman.
Data kementrian perhubungan menyebutkan di Indonesia terdapat 111 pelabuhan komersial dan 614 pelabuhan nonkomersial. Dari jumlah itu hanya 262 fasiiltas pelabuhan di Indonesia yang memenuhi standar International Ship And Port Facility Security (ISPS) Code yang dikeluarkan international maritime organization (IMO). Standar pelayanan itu mencakup ketersedian infrastruktur, kelengkapan peralatan, kecepatan bongkar muat, kedalaman laut, parker dan kecepaatan pengurusan berbagai dokumen.
Tidak mengherankan jika kemudian Global Competitiveness Report 2010-2011 menempatkan daya saing pelabuhan di Indonesia di posisi ke 95 dari 134 negara.peringkat Indonesia masih dibawah Thailand, Malaysia, dan singapura.
Masih amburadulnya pengelolaan pelabuhan di Indonesia juga bisa dilihat dari sisi pelayanan. Waktu tunggu bongkar muat di singapura mencapai 2 jam sedangkan di Indonesia bisa mencapai 20 hari. Meski ada yang tidak beres dalam pengelolaan pelabuhan , paradigma pembangunan tidak juga berubah. Pemerintah tetap mengutamakan pembangunan kedaratan dan menganaktirikan pembangunan kelautan.
Hal itu setiknya dilihat dari postur APBN. Total dana untuk pengembangan seluruh pelabuhan di Indonesia sebagaimana tercakup dalam master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia hanyalah Rp 117 Milyar. Dengan ratusan pelabuhan dana itu sungguh sangat minim, apalagi Indonesia berkejaran dengan waktu. Pemberlakuan secar penuh dan menyeluruh masyarakat ekonomi ASEAN serta perdagangan bebas ASEAN tinggsl tiga tahun lagi. Bukan hanya itu, konektivitas 6.000 pulau yang berpenghuni dari total 13 ribu pulang yang ada tentu membutuhkan keberadaan pelabuhan.
Pelabuhan, jelas, infrastruktur yang sangat penting bagi negara maritime. Namun dalam kenyataan, inilah Negara kepulauan yang mengabaikan dan menganaktirikan pelabuhan. Lebih ironis lagi. Republik ini seperti membiarkan kejayaan di laut mrnjadi kenangan masa lalu.

Solusi
Upaya Peningkatan Transportasi Laut Internasional.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan transportasi laut internasional Indonesia dengan cara mengurangi kelemahan yang ada sebagai berikut :
1.      meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dengan pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan pemerintah atau perusahaan ;
2.      menyediakan Sarana yang memadai ;
3.      menyediakan Prasarana yang memadai ;
4.      Kebijakan Pemerintah/ Penegakan hukum yang baik ;
5.      menghilangkan Monopoli Perusahaan termasuk tarif.
6.      mencari dan bekerjasama dengan Investor yang mau menginvestasikan usahanya baik investor lokal maupun asing ;
Strategi Pengelolaan Sumber Daya Kelautan .
Peningkatan kinerja transportasi laut internasional di Indonesia dapat dilakukan sejalan dengan semangat otonomi daerah. Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah:
  1. Deregulasi Kepelabuhanan
Mengingat tatatan kepelabuhanan terkait dengan tata ruang di wilayah laut, maka pemerintah kota / kabupaten berwenang untuk menyusun master plan kepelabuhanannya sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RUTW) daerah
  1. Menghindari Monopoli sektor Kepelabuhanan
Pasal 17 ayat (1) UU No. 5 / 1999 menyatakan bahwa “pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat”.
  1. Upaya Membangun Iklim Usaha Yang Kondusif
Pengelolaan kepelabuhanan melalui “manajemen tunggal “ oleh satu BUP telah membuat kinerja pelayanan kepelabuhanan di Indonesia ikut berperan dalam menimbulkan high cost economy.
  1. Sumber Daya Manusia
Balai Latihan Kerja (BLK) Maritim perlu direvitalisasi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang bersifat teknis dalam bidang permesinan, perbengkelan, dan galangan kapal. Pengembangan selanjutnya adalah pendidikan tinggi kemaritiman minimal sampai strata dua.
Dengan demikian, kualitas SDM Indonesia diakui secara internasional dan berdaya saing tinggi di era pasar global.
  1. Pendanaan
Kebijakan kelautan yang dianjurkan dalam aspek pendanaan adalah mengeluarkan paket insentif berupa kredit perbankan yang diperuntukkan bagi pengadaan armada transportasi laut, biaya operasional, dan biaya perawatan, sehingga pengusaha pelayaran nasional dapat memiliki armada sendiri dan tidak kedodoran.
Dengan adanya kebijakan-kebijakan kelautan semacam itu, diharapkan sektor transportasi laut bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hanya dengan cara ini, Indonesia sebagai bangsa bahari yang menganut prinsip negara kepulauan sesuai dengan Wawasan Nusantara akan semakin dihormati masyarakat internasional.

Kesimpulan
Kondisi transportasi laut Indonesia yang masih sangat menghawatirkan karena sebagian besar dikuasai pihak asing. Untuk memajukan transportasi laut indonesia, diperlukan upaya untuk mengurangi kelemahan yang ada seperti menyediakan sarana, prasarana dan sumber daya manusia didukung dengan pendanaan. Otonomi daerah dapat dipandang sebagai kekuatan baru dalam mereorganisir atau menata ulang birokrasi penyelenggaraan transportasi di Indonesia.

Referensi
Ø  Media Indonesia, edisi jumat, 29 Juni 2012 | NO. 11420 | TAHUN XLIII

Salinitas Air Laut


SALINITAS AIR LAUT

Nama   : Ayu Nissa                                  Kelas   : 4C/Geo.
NIM     : 1110015000034                          Email   : negaraayu@yahoo.com



Konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam air laut dikenal dengan salinitas. Konsentrasi ini biasanya sebesar 3% (tiga persen) dari berat seluruhny amereka biasanya disebut sebagai bagian perseribu atau biasa ditulis dengan 35 °/∞. Konsentrasi gara-garaman ini jumlahnya relative sama dalam setiap contoh-contoh air laut, sekalipun mereka diambil dari tempat yang berbeda di seluruh dunia. Oleh karena itu tidak diperlukan mengukur seluruh salinitas dari contoh-contoh setiap kali. Dalam hal ini sudah cukup menghitung salinitas pada satu daerah saja dan dari hasil pengukuran ini dapat dipakai untuk menentukan salinitas dari daerah-daerah lain. Cara yang biasa digunakan untuk menetukan salinitas adalah dengan menghitung jumlah kadar klor yang ada dalam satu sampel (chlorinitas).

Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut.

Pengertian salinitas air yang sangat mudah dipahami adalah jumlah kadar garam yang terdapat pada suatu perairan. Hal ini dikarenakan salinitas air ini merupakan gambaran tentang padatan total didalam air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh chlorida dan semua bahan organik telah dioksidasi. ( Definisi Salinitas air )
Pengertian salinitas air yang lainnya adalah jumlah segala macam garam yang terdapat dalam 1000 gr air contoh. Garam-garam yang ada di air payau atau air laut pada umumnya adalah Na, Cl, NaCl, MgSO4 yang menyebabkan rasa pahit pada air laut, KNO3 dan lainlain. ( Definisi Salinitas air )
Salinitas air dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat yang disebut dengan Refraktometer atau salinometer ( Alat Pengukur Salinitas Air ). Satuan untuk pengukuran salinitas air adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau promil (o/oo). Nilai salinitas air untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0–5 ppt ( Salinitas air Tawar ), perairan payau biasanya berkisar antara 6–29 ppt ( Salinitas air Payau ) dan perairan laut berkisar antara 30–35 ppt. ( Salinitas air Laut ). (GUSRINA, BUDIDAYA IKAN JILID 1)
Salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida. Jumlah kadar garam terlarut (gram) dalam 1 kg air laut.
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis. (http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/salinitas-air-laut.html)
Salinitas air laut, perubahan iklim, perubahan suhu, dan ombak keras menjadi factor degradasi sumber daya pesisir dan laut. (http://www.bakosurtanal.go.id/bakosurtanal/hampir-10-000-ha-hutan-bakau-ntt-rusak/)
Hampir semua organisme laut hanya dapat hidup pada daerah-daerah yang mempunyai perubahan salinitas yang sangat kecil. Daerah estuarian adalah suatu daerah dimana kadar salinitasnya berkurang, karena adanya sejumlah air tawar yang masuk yang berasal dari sungai-sungai dan juga disebabkan oleh terjadinya pasang surut di daerah ini. Akibatnya daerah ini merupakan suatu tempat yang sulit untuk dapat didiami, sehingga mereka merupakan suatu tempat yang hanya dapat dihuni oleh organsme-organisme tertentu yang telah menysuaikan diri dengan kondisi ini.
Salinitas bersifat lebih stabil di lautan terbuka, walaupun di beberapa tempat kadang-kadang mereka menunjukkan adanya fluktuasi perubahan. Sebagai contoh, salinitas permukaan di perairan laut mediterania dan laut merah kadang-kadang bisa mencapai 39 °/∞ dan 41 °/∞ yang disebabkan karena banyaknya air yang hilang akibat dari besarnya curah hujan. (Sahala Hutabarat, 2008: hal.55-56)
Fenomena alam yang terjadi di pertemuan laut Mediterania dengan laut Atlantik di selat Gilbraltar (selat Jabal Thariq) telah di rekamkan dalam firman allah, Q. S. Ar Rahman:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing” (Q. S. 55: 19-20)
Dalam firmannya tersebut allah SWT menjelaskan bahwa meskipun kedua lautan tersebut sama-sama mengalir, berwujud air dan sama-sama yang asin, tapi antara keduanya tidak dapat bercampur satu sama lain seolah-olah ada batas yang tak akan terlapaui. Dalam penelitian modern bidang oceanografi ternyata membuktikan bahwa batas yang menghalangi ke dua lautan tersebut tak dapat bercampur karna adanya perbedaan salinitas (kadar garam), densitas (kepadatan) dan suhu dari keduanya. (Al-Qur’an karim)











DAFTAR PUSTAKA


Ø  GUSRINA, BUDIDAYA IKAN JILID 1
Ø  Hutabarat, sahala,. 2008. Pengantar Oseanografi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Ø  Al-Qur’an Karim

Kamis, 01 November 2012

Buku Atlantis karya Prof. Arysio Santos

Setelah banyak peneliti melakukan penelitian, ternyata titik kirdinatnya ada kemiripan dengan kordinat sebuah lokasi di Indonesia. bahkan ada yang membuat sebuah buku tentang atlantis yang berpatokan Indonesia sebagai tempatnya. Tapi keakuratannya masih kurang karena lokasi ini hanya berdasarkan buku-buku kuno yang menceritakan lokasi-lokasi kerajaan atlantis yang berada di barat samudra pasifik.